Luar Biasa, Kisah Hikmah Seorang Guru Yang Belajar Kepada Muridnya

[papakuguru.com]- Syaikh Ibnu Al-'Arabi dalam kitab Futuhat Al-Makkiyah mengutib sebuah kisah istimewa, tentang kisah hikmah seorang guru yang belajar kepada muridnya. Kitab Al Futuhat Al-Makiyah merupakan karya monumental Ibnu Al-'Arabi yang mulai ditulis sejak 599 H di Makkah. Kitab yang berisi tentang kisah-kisah yang sarat akan ma'rifat seorang hamba dalam perjalanan hidupnya. Diantaranya adalah kisah Seorang pemuda sholih yang masih belia yang menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi pada suatu pagi.


Luar Biasa, Kisah Hikmah Seorang Guru Yang Belajar Kepada Muridnya

"Wahai Guru, semalam aku mengkhatamkan Al-Quran dalam shalat malamku".

Sang guru tersenyum, "Bagus nak, nanti malam tolong hadirkan bayangan diriku d hadapanmu saat kau baca Al-Quran itu. Rasakanlah seolah-olah aku sedang menyimak apa yang engkau baca".

Esok harinya, sang murid datang dan melapor pada gurunya. 

"Yaa Guru, semalam aku hanya sanggup menyelesaikan separuh dari Al-Qur'an".

'Engkau sungguh telah berbuat baik", sang guru menepuk pundaknya. "Nanti malam lakukan lagi dan kali ini hadirkan wajah para Nabi yang telah mendengar Al-Qur'an  itu langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Bayangkanlah baik-baik bahwa mereka sedang mendengkarkan dan memeriksa bacaanmu".

Pagi-pagi sang murid sudah menghadap dan mengadu kepada gurunya. 

"Duh guru", keluhnya, "Semalam bahkan hanya sepertiga Al-Quran yang dapat aku lafalkan".

"Alhamdulillah, engkau telah berbuat baik", kata sang guru sambil mengelus dengan penuh kasih kepala pemuda tersebut. 

"Nanti malam bacalah Al-Qur'an dengan lebih baik lagi, sebab yang akan hadir di hadapanmu untuk menyimak adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri. Orang yang kepadanya AL-Quran diturunkan".

Seusai sholat shubuh, sang guru bertanya kepada muridnya itu, 

"Bagaimana sholatmu semalam ?"

"Aku hanya mampu membaca satu juz, guru. Itupun dengan susah payah", kata pemuda sambih mendesah.

"Maasyaa Allah", kata guru sambil memeluk sang murid dengan bangga. 

"Teruskan kebaikan itu nak. Dan nanti malam tolong hadirkan Allah 'Azza wa Jalla di hadapanmu. Sungguh, selama ini pun sebenarnya Allah-lah yang mendengarkan bacaanmu. Allah yang telah menurunkan Al Qur'an. Dia selalu hadir di dekatmu. Jikapun engkau tak melihatnya, Dia pasti melihatmu. Ingat baik-baik. Hadirkan Allah, karena Dia mendengar dan menjawab apa yang kau baca !".

Keesokan harinya, ternyata pemuda itu jatuh sakit. Sang guru pun datang untuk menjenguknya. "Ada apa denganmu ?", tanya sang guru.

Sang pemuda berlinang air mata, "Demi Allah, wahai Guru, semalam aku tak mampu menyelesaikan bacaanku. Al Fatihah  pun tak sanggup aku menamatkannya. Ketika sampai pada ayat, " Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin" lidahku kelu. Aku merasa sedang berdusta. Di mulut aku ucapkan "KepadaMU Yaa Allah, aku menyembah". Tapi jauh di dalam hatiku, aku tahu bahwa aku sering memperhatikan yang selain Dia. Ayat itu tak mau keluar dari lisanku. Aku menangis dan tetap saja tak mampu menyelesaikannya".

"Nak..." kata sang guru sambil berlinang air mata. 

"Mulai hari ini engkaulah guruku. Dan sungguh aku ini muridmu. Ajarkan kepadaku apa yang telah kau peroleh. Sebab meski aku  membimbingmu di jalan itu, aku sendiri belum pernah sampai pada puncak pemahaman yang engkau dapat hari ini".

Semoga kisah mulia diatas mampu menjadi inspirasi bagi kita para guru di negeri tercinta ini. Jadikan perjalanan pengabdian kita di dunia pendidikan menjadi banyak hikmah yang bisa kita ambil untuk mendapatkan kemuliaan yang lebih banyak dunia akhirat.




Subscribe to receive free email updates: